Jakarta, Dapurredaksi.Com – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa lima Jurnalis dan tiga Awak Kapal di perairan Gunung Anak Krakatau.
Peristiwa tersebut menjadi duka mendalam bagi dunia Pers sekaligus pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap penugasan Jurnalistik, khususnya di wilayah berisiko tinggi.
Rombongan diketahui berangkat menggunakan speedboat bermesin ganda yang telah dilengkapi jaket pelampung untuk setiap penumpang.
Kapal dinakhodai oleh Warta bersama awak Surakman dan pemandu Heriyanto, dengan membawa penumpang lima jurnalis, yakni; M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhistira Pranoto (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas).
Ketua Umum IJTI Pusat, Herik Kurniawan dalam keterangan pers, Kamis 10 September,
menyampaikan dukungan moral kepada keluarga korban dan berharap seluruh proses pencarian diberikan kemudahan sehingga semua korban dapat ditemukan selamat.
IJTI mengapresiasi Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, nelayan setempat, serta seluruh pihak yang tak kenal lelah berjuang menyisir lautan.
”Kami menaruh harapan besar agar dedikasi di lapangan ini segera membuahkan hasil untuk menemukan rekan-rekan kami”, kata Herik.
Herik mengatakan, bahwa keselamatan adalah prioritas mutlak dan tidak boleh ditawar, baik oleh institusi media maupun Jurnalis itu sendiri, saat berada di medan peliputan berisiko tinggi.
Alam memiliki dinamikanya sendiri yang sering kali berada di luar kendali manusia, termasuk aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau. “Kami menegaskan kembali prinsip utama profesi ini, Tidak ada berita yang seharga dengan nyawa manusia”.
IJTI minta supaya dilakukan Evaluasi total SOP peliputan berisiko. Insiden hilang kontak ini menjadi peringatan keras dan bahan evaluasi total, bagi ekosistem pers Indonesia.
Perlu ada pengetatan Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan, manajemen mitigasi risiko, serta pembekalan kesadaran keselamatan (safety awareness) sebelum jurnalis diterjunkan ke zona bencana atau medan ekstrem.
Jurnalis yang baik adalah Jurnalis yang berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan. Namun di atas semua itu, Jurnalis yang pulang berkumpul bersama keluarganya dengan selamat adalah tujuan tertinggi. ”Sekali lagi, tidak ada satupun berita, yang seharga dengan nyawa”, tutup Herik.***






